Tanggal Posting

February 2014
M T W T F S S
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
2425262728  

Aktifitas


Kaligrafi, Lampu Kristal, dan Menara

# Ketua MUI : Masjid Tidak Perlu Kaligrafi, Lampu Kristal, dan Menara #

By nahimunkar.com ;

Masjid itu sesuai Al-Qur’an dibangun atas taqwa. Maka hal-hal yang mubazir tidak usah ada. Seperti tulisan kaligrafi di dinding dalam masjid, lampu-lampu kristal, bahkan menara itu sekarang bisa mubazir. Dikhawatirkan, kita bisa terkena ayat tentang mubazir.Ketua MUI Pusat, KH Ahmad Khalil Ridwan menyampaikan nasihat yang jarang dikemukakan para muballigh seperti itu dalam sambutannya pada acara peresmian Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq di Jl Raya Cianjur-Bandung Km6 Karang Tengah Cianjur Jawa Barat, Rabu 7 Rabi’ul Ak hir 1435H/ 5 Februari 2014.Ketua MUI meresmikan masjid ini bersama Hakim MK Dr Patrialis Akbar SH MH,  Wakil MUI Cianjur H Cepi Jaurahudin mewakili Ketua Umum MUI Kabupaten Cianjur KH R Abdul Halim, dan Kapolres Cianjur Berdirinya masjid di lokasi strategis di Jalan Raya antara Cianjur-Bandung Km6 ini atas prakarsa dan usaha dari Yayasan Abu Bakar Shiddiq Bintaro Jakarta pimpinan H Adang Suhardjo bersama H Nugraha Prajitna dan para ikhwah lainnya. Ini semua terwujud atas pertolongan Allah Ta’ala lewat para muwaqif dan dermawan.Menurut KH Ahmad Khalil Ridwan yang juga pemimpin Pesantren Husnayain di Jakarta ini, kaligrafi di masjid-masjid itu belum tentu dapat dibaca. « Saya sekolah agama 12 tahun ditambah lima tahun di Madinah saja tidak bisa membaca kaligrafi-kaligrafi yang ada di masjid-masjid, apalagi Umat Islam pada umumnya, » kata Kyai Khalil sambil memperagakan dengan melongok seolah membaca kaligrafi di dinding masjid.Tampaknya para panitia dan pengurus Masjid Abu Bakar Shiddiq yang sedang diresmikan ini tidak mengapa dengan sindiran Kyai Khalil ini, karena memang tembok masjid ini tidak dihiasi kaligrafi.

Kyai alumni Jami’ah Islamiyah Madinah ini mengingatkan, masjid-masjid tidak perlu ada lampu kristal. « Saya takut kalau shalat di bawah lampu kristal, kan berat itu. Kalau jatuh misalnya, bagaimana itu,” ucap Kyai Khalil di kawasan masjid yang sedang di resmikan ini, dan memang masjid ini tanpa lampu kristal yang biasanya menggelantung di masjid-masjid yang memang tampaknya berat.

Selain itu, menuru Kyai Khalil, menara pun kini tidak begitu diperlukan. Kalau dulu memang ya, karena orang adzan perlu naik ke atas agar suaranya terdengar ke mana-mana. Sekarang kan sudah ada pengeras suara, jadi cukup didirikan tiang besi saja untuk memasangnya. Jangan sampai masjid-masjid itu dibangun dengan adanya hal-hal yang dikhawatirkan kita terkena ayat tentang mubadzir,  sarannya. Yang terpenting justru terjaganya keaktifan shalat bejamaah sebagaimana ditekankan oleh Pak DR Patrialis Akbar, Hakim MK dalam sambutannya tadi, dan kegiatan Islam secara intensif untuk kepentingan Umat Islam, seperti Masjid Nabawi zaman Nabi shallalahu ‘alaihi wa salam. Sampai untuk mengobati orang-orang yang luka sehabis perang pun di masjid, ulasnya.

Di antara yang memprihatinkan bagi Kyai yang dikenal vokal ini, dia contohkan, ada masjid dikenal dengan (lima) kubah emas, yaitu kubah-kubahnya dilapisi emas 24 karat. Hingga nilainya triliunan rupiah.

« Saya sengaja mengutus santri saya untuk datang ke sana, untuk menghitung, berapa orang jamaah shalat shubuhnya di masjid kubah emas itu. Lalu dihitung satu persatu, ternyata hanya 17 orang yakni makmumnya 16 dan satu imam, jadi 17 orang saja, » ungkapnya mencontohkan dengan keprihatinan.

Meskipun demikian, Kyai khalil bergembira, ada hakim yang sampai menekankan pentingnya bahkan Wajib bagi laki-laki shalat berjamaah (di masjid) bagi yang tidak sedang ada halangan.  Maka seluruh hakim diharapkan agar seperti beliau, punya jabatan dan berkenan berdakwah. Ungkapan ini ditujukan kepada Dr Patrialis Akbar, Hakim MK (Mahkamah Konstitusi) yang baru saja memberikan sambutan dalam acara peresmian masjid ini. Dan itu dikaitkan dengan keprihatinan adanya masjid mewah yang tidak makmur dengan shalat jama’ah seperti yang dicontohkan tadi.

Sebuah hadits dikemukakan :

Negeri-negeri (bumi)  yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya, dan negeri-negeri (bumi) yang paling dimurkai Allah adalah pasar-pasarnya. (HR Muslim).

Di dalam hadits seperti itu, tapi kita ini  lebih sering ke pasar atau ke masjid. Lebih lama ke pasar atau ke masjid? Tanya Khalil Khalil.

Satu bukti tentang mulianya masjid, satu-satunya bangunan yang bisa dihormati dengan shalat hanya masjid. Istana tak boleh dihormati dengan shalat tahiyat istana. Dengan demikian, umat Islam perlu memfungsikan masjid sebaik-baiknya, sebagaimana Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam sebegitu mementingkan masjid, sehingga dalam perjalanan hijrah pun Nabi menyempatkan diri membangun masjid pertama yakni Masjid Quba’ (dekat Yatsrib/ Madinah). Dan itulah kaitan ayat yang diturunkan tentang masjid yaitu:

Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS At-Taubah: 108).

Di samping menjelaskan pentingnya memfungsikan masjid, Kyai Khalil menyarakan agar umat Islam membuat masjid sederhana saja, tapi imam dan marbotnya digaji dengan gaji yang besar. “Lihat saja, gaji imam masjid di Saudi sama dengan  menteri,” ujar Kyai Khalil yang memang alumni Saudi Arabia ini.

***

sumber : http://www.nahimunkar.com/


1 comment to Kaligrafi, Lampu Kristal, dan Menara

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>